Doomscrolling: Kebiasaan yang Diam-Diam Merusak Kesehatan MentaL
Infodongs – Niat awal cuma mau scroll sebentar sebelum tidur. Tapi tanpa sadar, satu jam berlalu dan pikiran malah makin penuh. Timeline dipenuhi berita buruk, konflik, bencana, hingga drama kehidupan orang lain. Jika ini terasa akrab, bisa jadi kamu sedang terjebak doomscrolling, kebiasaan digital yang makin sering dialami Gen Z.
Apa Itu Doomscrolling?
Doomscrolling adalah kebiasaan terus-menerus menggulir media sosial atau membaca berita negatif meski isinya membuat perasaan tidak nyaman. Kata “doom” berarti kehancuran atau hal buruk, sementara “scrolling” merujuk pada aktivitas menggulir layar. Kombinasi keduanya menggambarkan kondisi ketika seseorang sulit berhenti mengonsumsi informasi negatif, walau sadar dampaknya melelahkan secara mental.
Awalnya, doomscrolling terasa seperti cara untuk tetap “update”. Namun, lama-kelamaan kebiasaan ini justru membuat pikiran penuh kecemasan.
Kenapa Doomscrolling Banyak Dialami Gen Z?
Gen Z adalah generasi yang tumbuh bersama internet dan media sosial. Akses informasi yang cepat memang memudahkan, tapi juga punya sisi gelap. Algoritma media sosial cenderung menampilkan konten yang memicu emosi kuat, termasuk rasa takut dan marah, karena konten seperti itu membuat pengguna betah berlama-lama.
Selain itu, banyak Gen Z mengalami FOMO (fear of missing out), takut tertinggal informasi penting. Saat sedang stres atau capek mental, scroll media sosial sering dijadikan pelarian. Ironisnya, pelarian ini justru memperparah kondisi mental.
Dampak Doomscrolling terhadap Kesehatan Mental
Doomscrolling bukan sekadar kebiasaan buruk, tapi bisa berdampak serius pada mental health Gen Z. Beberapa dampak yang sering dirasakan antara lain meningkatnya kecemasan, overthinking, dan stres berlebih. Paparan konten negatif terus-menerus membuat otak berada dalam mode siaga, seolah bahaya selalu mengintai.
Selain itu, doomscrolling juga dapat mengganggu kualitas tidur, menurunkan fokus, dan mengurangi produktivitas. Tak jarang, seseorang merasa capek tanpa alasan jelas, padahal pemicunya adalah konsumsi informasi negatif yang berlebihan.
Tanda-Tanda Kamu Sudah Terjebak Doomscrolling
Ada beberapa tanda umum doomscrolling, seperti scroll tanpa tujuan, sulit berhenti meski sudah lelah, merasa cemas setelah membuka media sosial, serta kebiasaan mengecek ponsel begitu bangun tidur atau sebelum tidur. Jika kondisi ini sering terjadi, artinya tubuh dan pikiran sedang meminta jeda.
Cara Mengurangi Doomscrolling secara Realistis
Mengurangi doomscrolling bukan berarti harus berhenti total dari media sosial. Langkah kecil justru lebih efektif. Mulai dengan membatasi waktu layar, unfollow akun yang sering memicu kecemasan, dan hindari membaca berita berat sebelum tidur. Mengganti waktu scroll dengan aktivitas sederhana seperti jalan santai, menulis jurnal, atau mendengarkan musik juga bisa membantu menenangkan pikiran.
Yang terpenting, sadari perasaan sebelum dan sesudah scrolling. Kesadaran ini membantu kamu mengontrol kebiasaan, bukan dikendalikan olehnya.
Di era digital, doomscrolling menjadi tantangan nyata bagi kesehatan mental Gen Z. Berhenti sejenak dari layar bukan berarti ketinggalan informasi, tapi bentuk kepedulian terhadap diri sendiri. Ingat, menjaga mental sama pentingnya dengan menjaga fisik. Dunia boleh ribut, tapi kamu tetap berhak untuk merasa tenang.
Penulis : Hayati







Tinggalkan Balasan