INFODONG, Jakarta – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin mendukung evaluasi terhadap pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), khususnya dalam memperkuat tata kelola dan integritas pelaksanaannya.

Gus Kikin menyampaikan hal tersebut menyusul kasus dugaan keracunan makanan dalam program MBG yang dialami ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Sidoarjo, Jawa Timur, hingga harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.

Menurut Gus Kikin, penguatan integritas dan tanggung jawab setiap pihak yang terlibat menjadi bagian penting untuk mencegah kejadian serupa kembali terjadi. Setiap pelaksana, kata dia, harus menjalankan tugas sesuai dengan tanggung jawab serta ketentuan yang telah ditetapkan.

“Integritas lah, kalau semuanya bertanggung jawab terhadap kegiatan dan pekerjaannya, ya mudah-mudahan enggak terjadi (terulang kembali kasus keracunan MBG). Integritas itu lah, kita masing-masing itu harus bertanggung jawab terhadap kegiatan-kegiatannya, tanggung jawab terhadap aturan-aturan yang diberlakukan di dalam kegiatan masing-masing,” ujar Gus Kikin.

Ia menilai kasus keracunan dalam pelaksanaan MBG merupakan salah satu dari sejumlah kejadian yang perlu menjadi bahan evaluasi. Karena itu, perbaikan tata kelola program harus terus dilakukan tanpa mengabaikan berbagai praktik baik yang selama ini telah diterapkan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Praktik-praktik yang dinilai berhasil tersebut, lanjutnya, dapat terus dipertahankan dan diterapkan secara lebih luas, termasuk dalam pelaksanaan program MBG di lingkungan pesantren.

“Ya itu kan satu dari sekian banyak (kejadian keracunan MBG), ya kita harus jalan terus karena memang pesantren harus jalan,” tuturnya.

Sementara itu, Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Muhammad Syafii meminta dugaan keracunan makanan yang dialami santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Sidoarjo, Jawa Timur, segera diinvestigasi. Langkah tersebut diperlukan untuk memastikan penyebab kejadian sekaligus menjadi bahan evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG.

“Karena sudah hampir satu tahun dapur ini menyuplai anak-anak ini dan baru sekarang terjadi masalah, tentu kita perlu investigasi apa yang sebenarnya terjadi,” ujar Wamenag, Jumat (4/9/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan Wamenag saat mengunjungi santri yang masih menjalani perawatan di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo.

Dalam kunjungan itu, terdapat delapan pasien yang masih menjalani perawatan. Dari jumlah tersebut, lima pasien telah diperbolehkan pulang, sedangkan tiga lainnya masih menjalani perawatan di rumah sakit.

Wamenag mengatakan keluhan yang dialami para santri umumnya berupa gangguan pada perut dan rasa mual. Namun, berdasarkan kondisi pasien yang ditemuinya, keluhan tersebut tidak tergolong berat.

“Yang dirawat ada delapan. Kata kepala rumah sakit, lima hari ini akan dipulangkan, tinggal tiga. Jadi anak-anak tadi memang ada yang mengeluh perutnya, mual, tetapi tidak terlalu berat,” ujar Wamenag.